Puisi “Kaca” -Rifqi A.

Puisi ini terinspirasi oleh saya sendiri pada waktu subuh di hari pementasan Teater Sastra Universitas Indonesia ke-392 yang mengangkat isu kekerasan seksual dengan tema “Mencari Nurani” [R21]

“KACA” oleh Rifqi Akbar

Aku……makan….

Aku……minum….

Lalu……aku menyalakan televisi

Munculah berbagai berita mancanegara

 

Pemilihan ketua dan wakil…..

Pembunuhan……

Penculikan……

Pencurian…….

dan semua berita tak kunjung habis

Hingga ada

Satu kasus yang menarik perhatianku….

PEMERKOSAAN……

 

“DUAAAAAAAKKKKKK”

Pintu-pintu terbuka oleh angin yang melantunkan lirik manisnya

Daun-daun ikut berdansa dengan

Tamu yang datang membawa kaca

Kuambil kacaku dan bercakap dengannya…….

berdandan lalu ku hias dengan begitu indahnya kaca itu

Kemudian……. muncul hitam pekat….. kuusap…. tapi tak hilang……

Semakin kugosok semakin melebar hitam pekatnya…….

Akhirnya kacapun tak memancarkan sinarnya….

 

Pernahkah kau bercakap pada kaca hitam pekat ?

Seratus, sejuta, miliar, triliun pasti kau buang kaca itu….. atau kau tukar dengan yang baru

Pernahkah kau fantasi jika kau kaca yang terbuang  ?

Sepertinya tidak banyak…… bahkan tidak ada…… layaknya slogan habis manis sepah dibuang

Pernahkah kau……aku……… dan kaca yang terbuang itu memikirkan hal yang serupa ?

Ya……. kau butuh kaca….. aku butuh kaca….

tapi…..

kaca yang terbuang butuh siapa dan apa ?

Kaca……..kaca……..kaca……. jika tak ada kaca…..

aku harus bagaimana dan bertanya mengapa ?