Puisi “Kaca” -Rifqi A.

Puisi ini terinspirasi oleh saya sendiri pada waktu subuh di hari pementasan Teater Sastra Universitas Indonesia ke-392 yang mengangkat isu kekerasan seksual dengan tema “Mencari Nurani” [R21]

“KACA” oleh Rifqi Akbar

Aku……makan….

Aku……minum….

Lalu……aku menyalakan televisi

Munculah berbagai berita mancanegara

 

Pemilihan ketua dan wakil…..

Pembunuhan……

Penculikan……

Pencurian…….

dan semua berita tak kunjung habis

Hingga ada

Satu kasus yang menarik perhatianku….

PEMERKOSAAN……

 

“DUAAAAAAAKKKKKK”

Pintu-pintu terbuka oleh angin yang melantunkan lirik manisnya

Daun-daun ikut berdansa dengan

Tamu yang datang membawa kaca

Kuambil kacaku dan bercakap dengannya…….

berdandan lalu ku hias dengan begitu indahnya kaca itu

Kemudian……. muncul hitam pekat….. kuusap…. tapi tak hilang……

Semakin kugosok semakin melebar hitam pekatnya…….

Akhirnya kacapun tak memancarkan sinarnya….

 

Pernahkah kau bercakap pada kaca hitam pekat ?

Seratus, sejuta, miliar, triliun pasti kau buang kaca itu….. atau kau tukar dengan yang baru

Pernahkah kau fantasi jika kau kaca yang terbuang  ?

Sepertinya tidak banyak…… bahkan tidak ada…… layaknya slogan habis manis sepah dibuang

Pernahkah kau……aku……… dan kaca yang terbuang itu memikirkan hal yang serupa ?

Ya……. kau butuh kaca….. aku butuh kaca….

tapi…..

kaca yang terbuang butuh siapa dan apa ?

Kaca……..kaca……..kaca……. jika tak ada kaca…..

aku harus bagaimana dan bertanya mengapa ?

 

Legenda Mangir ( Re-telling)

Pada tahun 1527, Majapahit mengalami keruntuhan. Hal ini mengakibatkan Jawa menjadi kacau balau dan bermandikan darah. Kekuasaan tak berpusat hingga menemukan penguasa tunggal. Ketika kerajaan Pajang mengalami keruntuhan sehingga kerajaan berpindah tempat ke Mataram yang dipimpin oleh Panembahan Senopati. Panembahan Senopati sangat tidak bijaksana, memaksakan kehendak, dan berkeinginan untuk menjadi penguasa tunggal Mataram. Hal tersebut menjadi pemberontakan bagi daerah-daerah kecil, hingga beberapa daerah ingin memisahkan diri.

Suatu hari di desa Mangir, Ki Ageng Mangir atau yang biasa dikenal Wanabaya berhasil menundukkan pasukan Mataram yang hendak menyerang dengan siasat perang yang cukup rumit.  Hal itu tak bisa ditandingi sebab Wanabaya memiliki tombak yang sakti yang dibuat oleh Baru Klinting. Setelah perang tersebut usai, Wanabaya merayakan kemenangan dengan menari bersama wanita cantik yang bernama Adisaroh. Wanabaya tak mampu melepaskan pandangannya dari Adisaroh yang lama kelamaan membuatnya jatuh hati kepadanya.

Lain halnya dengan Wanabaya, para demang dan Baru Klinting justru sibuk berdebat sengit akan tingkah laku Wanabaya yang menurut Demang Patalan dan Demang Pandak tidak sepatututnya dilakukan oleh seorang tua Perdikan. Sebaliknya Demang Jodog dan Demang Pajangan justru membenarkan apa yang dilakukan oleh Wanabaya, sementara itu Baru Klinting hanya bisa menjadi penengah antara kedua kubu yang berseteru.

Baru Klinting yang pandai bersilat lidah akhirnya memutuskan untuk menghadapkan Wanabaya beserta Adisaroh ke hadapan para demang. Mereka menuntut Wanabaya agar dapat bersikap bijak layaknya sebagai seorang tua Perdikan, bukannya malah mabuk sambil menari-nari bersama Adisaroh seusai perang. Bukan kepalang kekesalan Wanabaya, akhirnya di hadapan seluruh demang termasuk ayah Adisaroh Tumenggung Mandaraka, ia menyatakan rasa cintanya kepada Adisaroh dan hendak mempersuntingnya. Tak ada pilihan bagi Adisaroh untuk menolak begitu juga dengan para demang yang tak dapat membendung hasrat Wanabaya muda.

Tak henti sampai di situ, Baru Klinting tetap memberi wejangan dan nasihat kepada Wanabaya akan keputusan yang telah ia ambil. Dengan atau tanpa Adisaroh Wanabaya tetap harus menjadi orang yang paling setia dan cinta pada Perdikan Mangir serta tidak akan melemah pendirian. Tetap gagah berani dan terus maju melawan Mataram sebagai seorang setiawan.

Di daerah-daerah lain dapat dikalahkan Mataram, kecuali daerah Mangir. Berbagai cara sudah dicoba, dengan cara damai maupun cara kasar namun tetap tak kunjung mendapat hasil. Tetapi Ki Ageng Mangiri bersama para pengikutnya berpendirian kuat dalam memimpin pemberontakan karena tidak ingin diperintah oleh Mataram. Ki Ageng Mangir dibantu oleh beberapa orang demang yang masing-masing memiliki daerah kekuasaan yaitu Demang Palang, Demang Jodog, Demang Pandak, dan Demang Pajangan.

Menanggapi permasalahan ini, Panembahan Senopati geram dan mengumpulkan seluruh pasukannya untuk berunding mencari siasat untuk menakklukkan daerah Mangir. Dalam perundingan tersebut hadir Ki Juru Mertani dan Pangeran Mangkubumi.

“Kita harus sedikit mau berkorban baginda, agar tak banyak lagi jatuh korban di pihak kita karena ulah Ki Ageng Mangir ini, meskipun pengorbanan itu mungkin akan terasa berat bagi baginda sendiri, sebab tanpa pengorbanan itu, saya berkeyakinan upaya kita akan sia-sia . Oleh karena sepanjang sepengetahuan saya, kesaktian tombak Kyai Baru Kelinting itu tak bisa dikalahkan dengan cara kekerasan. Kesaktian tombak tersebut hanya bisa dipunahkan jika tersentuh seorang wanita”, tutur Ki Juru Mertani kepada Senopati. Dia pun menambahkan orang yang terdekat dan akrab dengan Ki Ageng Mangir, yaitu Dewi Pamabayun.

Panembahan Senopati dengan berat hati menyetujuinya siasat Ki Juru Mertani. Keputusan itu membuat Dewi Pambayun melaksanakan tugas ini dengan hati-hati. Karena setiap desa mengetahui bahwa dirinya adalah putri Sultan Mataram. Dirinya menyamar sebagai penari keliling. Ia pun diawasi oleh para pengawal kerajaan yang menyebabkan mereka harus berkeliling daerah Mangir agar tak diketahui oleh Wanabaya.

Dewi Pambayun diundang untuk menari di kediaman Ki Ageng Mangir. Rupanya Wanabaya  mempersunting Dewi Pambayun. Sejak itulah, mereka menjadi suami istri yang sah dan Dewi Pambayun tinggal di Mangir untuk beberapa waktu yang lama. Pambayun pun lekas memegang tombak tersebut, dan punahlah kesaktiannya oleh usapan tangannya. Kemudian, ia mengajak untuk berkunjung ke Mataram untuk menghadap mertuanya sekaligus musuhnya.

Akhirnya, perasaan cinta membuat hati Ki Ageng Mangir luluh dan mengabulkan permintaan istrinya. Mendengar kepercayaan serta cinta kasih Ki Ageng Mangir terhadap istrinya serta anak yang di dalam kandungannya, Pambayun diam tanpa kata sedikitpun. Ia menyesali akan perlakuannya terhadap suaminya karena ia mencintainya, akan tetapi sudah menjadi tugasnya yang dilaksanakan dengan penuh pengorbanan. Ki Ageng Mangir pun mengetahui bahwa tombak kesaktiannya pun hilang sehingga ia tak membawanya dan menggunakanya untuk menyerang Mataram.

Hari kunjungan yang dinanti telah tiba, Ki Ageng Mangir di hadapan Panembahan Senopati dan memohon restu karena telah menikahi putrinya. Kewaspadaan Ki Ageng Mangir lenyap saat diterima dengan penuh keramahan oleh Panembahan Senopati. Tiba-tiba ketika beliau bersimpuh dan merunduk di depan hadapannya, Panembahan Senopati membeturkan kepalanya ke lantai batu keras luar biasa. Maka tewas Ki Ageng Mangir dengan kepala pecah.

[Short Story] Inception ! Beginner ver.

Hari ini hari Minggu. Hari ini aku telah memanjakan diriku untuk berjalan-jalan bersama sahabat-sahabatku. Mencoba kuliner-kuliner pasar Santa dan blok S hingga kami sangat kekenyangan. Waktu sudah menujukkan jam tiga sore. Kami memutuskan untuk menonton film baru yang dirilis hari ini yaitu Harry Potter ke – 5. Kekuatan magis yang sangat luar biasa dan berandai-andai jika sihir itu memang ada. Tapi, itu semua hanya fiktif belaka. Akhirnya, teringat olehku bahwa belum mengerjakan tugas untuk hari esok. Aku menyalakan musikku agar aku tidak mengantuk saat mengerjakan tugas. Tugas ekonomi yang menyusahkan, aku pun memutuskan untuk mengerjakan esok pagi di kelas dan menyontek teman yang sudah mengerjakan. Aku memutuskan untuk menyalakan televisi dan membuka program HBO yang menyiarkan film Spiderman.

Tak sadar, tiba-tiba alarm jamku berbunyi menunjukkan pukul lima pagi dan televisi pun mati. Aku bergegas ke kamar mandi, lalu menyiapkan sarapan pagi hingga memakai seragam sekolah. Pagi yang cerah ketika aku akan berangkat ke sekolah, aku makan roti dengan segelas teh sambil melihat sosial media hari ini. Aku melihat setiap artikel serta aku pun menyempatkan untuk mencari akun sosial milik teman perempuanku. Aku ingin mengirim pesan padanya, tapi aku tak kunjung memberanikan diri, aku pindah bolak-balik antar kursi. Lalu, hati ini berusaha untuk menekan tombol kirim tapi sinyalku tiba-tiba hilang seketika. Karena, sinyalku hilang, aku putuskan untuk berangkat ke sekolah dengan sepeda.

Dalam perjalanan, aku mengunjungi rumah sahabatku yang bernama Rian. Sebelum melanjutkan perjalanan, aku dan Rian seakan punya kontak mata yang mengajak bertanding balapan ke sekolah. Ketika pertandingan berlangsung, ada anjing mengejarku dari belakang, ia pun lari sangat kencang, tak sadar aku pun menambah kecepatan sepedaku. Di sela-sela anjing mengejarku, temanku memanggilku “Eka, kemana ? sekolahnya kelewatan !”. Aku mengerem sepeda dan berbalik bahwa tidak ada anjing yang mengejarku.

Di tengah-tengah pelajaran sejarah, aku mengumpat untuk makan bekal yang dibuat oleh ibu di rumah. Ketika aku ingin makan, pujaan hatiku menawarkan dirinya untuk menyuapkan bekal tersebut. Rasanya nikmat sekali disuapin oleh perempuan yang aku kagumi selama dua tahun ini.  Dunia itu terasa milik berdua ketika sedang jatuh cinta, ia pun berkata “enak, disuapin ? aku membalas ucapannya “Iya, enak !”. Aku memejamkan mata, disuapin seperti anak bayi, tetapi saat aku membuka mata, tetiba perempuan tersebut raut wajahnya menjadi tua  dan berkumis. Aku sangat kaget yang menyuapi  ternyata adalah guru sejarah dan langsung membanting meja hingga bekalku terjatuh.

Bel istirahat berbunyi. Kemudian, aku dengan temanku Joni mengambil kain pel dan sapu yang terletak di depan ruang office boy untuk membersihkan bekalku yang terjatuh. Teman-temanku ada yang menyalakan musik dengan speaker dengan suara yang cukup keras, aku pun langsung memainkan gitar dan cewe yang bernama Rita, ia pun bernyanyi riang,  kita bernyanyi ria dan ada yang bersorak ketika kita menyanyi. Selesai bernyanyi, ada salah satu fans yang melempar botol ke kepalaku. Ternyata, aku tersadar bahwa belum mengepel lantai dan sibuk dengan tongkat sapu seperti gitar serta microphone. Bel istirahat usai, lalu dengan sigap dan cepat aku membeli tisu banyak di kantin serta balik ke kelas, untuk membersihkan lantai tersebut dengan cepat. Setelah itu, aku mengganti seragam sekolah dengan kaos olahraga.

Pelajaran olahraga dimulai, kami turun dari lantai tiga menuju lapangan. Sebelum turun, kami tidak lupa untuk membawa bola futsal untuk bermain di lapangan sebelum guru datang. Kami melakukan suit untuk membagi tim menjadi dua. Kemudian, kami bertanding, cewe-cewe pun meneriaki  “Ayo !!!  Kalahkan mereka !!! Serang balik !!! ” dan menyemangati kami bermain. Suasana stadium terasa di liga inggris, permainan cepat dan pertahanan yang cukup kuat. Aku pun ikut terbawa suasana hingga aku mendapat umpan dari temanku, melewati satu per satu hingga tiba depan gawang, aku pun menendang bola dengan sangat kencang dan GOOOLLLL !!!! Aku merayakan selebrasi gol bersama teman-teman. Terdengar olehku bahwa ada yang menyaut dari belakang lalu suara itu makin mendekat hingga seseorang menepuk pundakku, lalu ia berkata “ Eh, eka ! Itu guru olahraga, muka beliau kena tuh sama tendangan kamu barusan ! ”. Aku tercengang, “ Eh, kirain tadi jebolin gawang ternyata ………, ups ”.

Beliau pun memaafkan atas perlakuanku yang menendang bola sangat kencang tadi. Beliau memberi instruksi untuk lari dalam tiga putaran di luar sekolah dan mengelilingi sekolah. Kami pun lari, cowo-cowo mengadakan balapan lari. Aku ikut bertanding. Kami kejar-kejaran satu sama lain. Selesai lari, aku sangat lelah hingga berbaring di lapangan sambil berkata kepada temanku “ Andaikan, ada yang membawakan minuman dingin saat terik matahari ini. Tiba-tiba ada yang melemparkan botol ke badanku “ Nikmat sekali airnya !” Aku pun terbangun, tiba-tiba mereka menertawakanku hingga aku bingung “ Eh, ada apa nih ?” Teman sebelahku bilang bahwa air yang diminum olehku adalah air kolam. Aku langsung memuntahkan air yang baru saja tertelan dan mengambil aqua yang asli.  Tak lama kemudian, hujan pun turun rintik-rintik, tapi kami masih tak menghiraukan, tiba-tiba datang deras hingga aku terpelest dan botol aqua yang belum tertutup itu jatuh ke mukaku. Aku pun terbangun ternyata aku disiram setengah ember yang berisikan air. Ternyata tadi semua itu mimpi, tapi mimpi di dalam mimpi. “Wow, sungguh luar biasa”, ucapku.

Related the world

I’ve just got a new hobby. That’s listening to audiobooks and podcast. Not many Indonesian people didn’t know about it. Facilities didn’t provide it and expensive for us though. How many people likes to read a book either men or women in our country ? In sexist percentage, women already won it, just a few little men liked it. Actually, there is relation between listen and read.

When you’re a baby, first you listen to the people talked, then you’ll try to talk. Next, you read something when you’re still little.Then you can write something.

That’s become our first knowledge to learn language. How about going overseas ? For us, tourist must could do a little language to talk like order a food in café. They’re respected their language. But, Indonesia did not do what foreigners do. We must could talk english because it’s international language that we know other than Indonesia.

When we can comprehend our life ? We must read a lot of books in fiction or nonfiction instead. When you Judge for first time, you’ll lose. You must comprehend it then you know what it is.  Both of them made influence on ourselves. When you’ve read both of them. You could confront many problems.

Parents doesn’t like their child become a translator or language masters. Directing them like us to be in the future is really worst. But your child has their own world and the parents must support them.

 

” NONFICTION IS FICTION ENOUGH ” by -anonymous

 

[[ THANKS ]] [R21]

 

MIMPI ?

Saya memiliki momen terindah dan tidak terlupakan selama selama tiga tahun di sini, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Saya tidak hanya belajar tentang linguistik saja, melainkan kebudayaan, kesusastraan, serta sejarah juga dipelajari. Suasana pun mempunyai keindahan dan warna tersendiri dengan acara-acara yang diadakan dari berbagai jurusan. Salah satu acara terbesar fakultas ini adalah Festival Budaya yang diadakan setiap setahun sekali pada bulan November atau Desember.

Festival Budaya memiliki banyak kenangan terindah dan tak terlupakan bagi saya, terutama pada acara Petang Kreatif, acara teater terbesar yang melibatkan lima belas jurusan dan diperuntukkan mahasiswa-mahasiswa baru FIB karena saya bisa mengenal satu angkatan serta senior-senior hingga alumni datang untuk membantu adik-adik yang belum sama sekali mengenal teater. Nilai positif yang saya dapati adalah mengenal ilmu teater yang tidak pernah diajarkan semasa bangku sekolah dalam dua belas tahun. Saya menjadi penasaran dan ingin mendalami ilmu teater tersebut dengan alasan saya menemukan sesuatu yang baru dalam diri saya sendiri. Hal itu sangat bertolak belakang ketika saya sangat lama mengikuti ekstrakurikuler paskibra semenjak SMP hingga SMA. Saya berterima kasih terhadap Petang Kreatif memberikan kepercayaan diri dengan tampil sebagai lakon pada pementasan yang berjudul “PENJARA”. Saya sangat berlatih keras dan ingin merasakan kemenangan layaknya gajah yang menginginkan sayap, yang akhirnya tak mendapatkan apa-apa. Saya sempat merasa kecewa dan juga merasa bahwa latihan keras saya hanya sia-sia. Ketika usai, saya pun merasa sudah tenggelam dengan passion baru tersebut dan mengakibatkan alumni berambisi untuk membuat teater di dalam jurusan Jepang yaitu Teater Niyaniya.

Beralih tahun 2014, inilah pertama kali ingin menyelami perteateran. Bersama aktor-aktor yang telah berpartisipasi dalam Petang Kreatif, akhirnya bergabung komunitas tersebut. Alumni yang biasa dikenal dengan inisial N, ia yang bertanggung jawab atas komunitas ini terbentuk. Datang dari kehidupan perkotaan yang sangat penat dan tenggelam di tengah lautan dunia, lalu tabung oksigen yang mulai habis, akhirnya suksesi menemukan kapal selam yang bernama “HARUKA”. Pementasan yang bertempat di Stadion Bulungan bukanlah hal yang mudah untuk komunitas teater yang baru saja dibuat. Mengumpulkan uang sedikit demi sedikit lama menjadi bukit, pentas pun dilaksanakan di bulan Juli. Pascapementasan, aktor-aktor mulai memiliki kesibukan masing-masing dan keluar dari komunitas tersebut. Akhirnya, terpikirkan olehku untuk keluar dari komunitas tersebut akibat tidak adanya latihan rutin, dan hanya latihan ketika ada niat pementasan. Mungkin orang mengira saya itu adalah obsesi atau orang idealis. Tetapi, sumber daya manusia tak mencukupi untuk menghidupkan komunitas tersebut. Ilmu teater dengan berdasarkan Petang Kreatif tidaklah cukup. Teman yang mendirikan komunitas pun belum memiliki keahlian selain keaktoran. Hanya diajarkan satu karakter dan tidak mempelajari karakter lain membuat saya kecewa karena saya tidak akan berkembang dengan hanya satu karakter saja. Kekecewaan makin bertambah karena saya telah memilih jalan hidup untuk menekuni teater lebih dalam. Ironi, ketika ambisi tidak diniatkan untuk melanjutkan jenjang yang lebih tinggi, beasiswa pun tersedia. Saya pun memutuskan untuk keluar dari komunitas tersebut. Dengan berharap bagaimana saya bisa berkembang dengan mempelajari semua hal yang berhubungan teater dan mencoba bermain tanpa naskah seperti kehidupan sehari-hari. Akhirnya, saya memutuskan untuk bergabung Teater Sastra.

Bergabung Teater Sastra adalah hal paling sulit karena ketika saya masih maba, saya memang ingin bergabung ukm fakultas ini tanpa pengetahuan apapun. Saya menonton multimonolog yang berjudul SELINGKUH membuat saya terpana. Akibat sibuk dalam Petang Kreatif, dan alumni jurusan jepang belum ada yang bergabung ukm fakultas tertua ini, saya memutuskan untuk menahan terlebih dahulu. Dilanjutkan pada tahun 2014, mereka mementaskan adaptasi novel Shakespeare, disana saya merasakan keindahan dan kelihaian sutradara mengadaptasi naskah ini karena saya pun juga membacanya dan penasaran ketika itu dipentaskan. Seusai pentas itu, tak lama kemudian hal itu menjadi acuan buat saya untuk ikut karena ada teman yang menjadi aktor di pementasan tersebut. Karena ada teman, akhirnya saya pun bergabung Teater Sastra. Pertama kali, saya takut tapi akhirnya bisa menyesuaikan diri dan diterima dalam keluarga tersebut. Ketika saya bergabung, saya hanya kerupuk dan aktor bodoh. Selama dua tahun belajar menjadi garing. Sesuai Einstein berkata “semakin saya belajar, semakin banyak yang saya belum ketahui”. Dosennya pun sesuai yang saya harapkan, beliau lulusan teater New York dengan beasiswa Fullbright. Hal itu membuat terdiam dan keheningan di kepala. Metode pengajaran seperti teater-teater Amerika. Beliau juga mengajarkan bahwa teater adalah ilmu memanusiakan diri sendiri dan orang lain. Saya tidak pernah menyesal bisa bergabung teater ini. 

Thanks a lot Shakespeare !

” Be not afraid of greatness ” -William Shakespeare

Thanks a lot to that quote ! I just started to read your completed works or listened audiobooks.  I felt so pity that I know Shakespeare when I was in college now. I did not know about Shakespeare when I’m childhood. Maybe if Shakespeare or many great writers that has inspired because of him have been taught in my country,  I think I have a big dream as same as all of generation in Indonesia and All of us believe that big dream can come true. Because of many factors like culture, kindergarten or High School Education in Indonesia did not let us know of it,  my parents don’t like to read books, books just for the bourgeouis or who have a lot of money,  the school library did not provide it like classic stories, classic writers, or classic Indonesian writers too. Or the government does not want us to be writers which mean we could write in any genres or scared that we could open the world of yours like Pramoedya Ananta Toer and let us live in a cell and became famous in eternal. Habibie, the ex-president of Indonesia, is one of greatest inventor from Indonesia. And are you not feel so embarrassment, that we just have one or two in little percentage, are ya ? Think about it. How many people doesn’t want comeback to Indonesia after study in another country. You’ll think because of you, when they succeed in there, ha ? or because they’ll think all of you not in their levels which can make a conflict between humanity and in the end, we does not have a solve problem. The kids must teach and produce their imagination in their bags what they want become. How the imagination works productive and to producting new things, not consume it much. Not slept for long culture and history, we took school and prepared to be workers. How pity ? We must moving on from it.

I CAN NO MAKE OTHER ANSWER MAKE BUT,  THANKS, AND EVER THANKS -William Shakespeare

 

 

 

Hello ! Theatre !

-[R21]-

This was unforgettable moments in my life being a year on a family. I’m very curious any kind about theatre after i’ve passed big event in my freshman year at University of Indonesia. The big event was called Petang Kreatif which is held once a year in November or December at Faculty of Humanity. The reason why I’m so curious was there’s no extracurricular like theatre in my whole school life. Theatre was growing so addicted in developed countries like Broadway, Shakespeare Globe Theatre, etc. Developing country like Indonesia, just a few people know and learn theatre. Actually, Indonesian Culture in this era still minim to provide performance arts like Theatre or Orchestra. If you mind, please read history book on your own self because I don’t want tell any history in my own writing. -[R21]-

First of all, I would say thank you so much to let all of us include myself knowing and learning about theatre in our freshman year. As i performed for the first time and it’s entitled was “PENJARA” , I trained hard and I wanna get a win like a stupid elephant wanna fly in the sky, in the end we didn’t get nothing. I felt disappointed and just thinking my training was useless. -[R21]-

Then, in sophomore year, a undergraduate friend standing up Niyaniya Theatre then I joined him with my friends. He is holding all the responsibility for first time. Then I performed for the second which entitled “Haruka” at Bulungan Stadium. I’ve been thinking to renew for long time and I’m out because the community just trained if there is a task to do perform and not become routine and i don’t think if my undergraduate friend choose his path in theatre ways. He must learning again in graduated program and looking for scholarship not just learning actor subject, maybe he must looking up all of theatre subject. Just trained one character and never played another character. If I just stood up for one character and never trained routine when i can improve at all. It needs process and i just choose my path to theatre. So I need to improve myself means how could I improve my another character, played without script, and learning All of theatre subject like actors, staging, lighting, directing, scriptwriting, etc. -[R21]-

Last, in junior year, I’m out of nowhere as lonely as life on chicken farm because I’ve just chosen my path in theatre. And, I joined Teater Sastra, the oldest theatre in university which reached 32nd this year. When I joined, I’m just pawned, newbie, and foolish actors. After all, a study I already 2 years had in the bag become nothing. As Einstein said ” The more I learn, the more I realized how much I don’t know”.  The teachers who i respected and directed Teater Sastra was Graduated Master of Arts in Theatre Program, NYU. It’s filled up my silence. The teaching method very different like he’s a pro and graduated. I smelled a place like home and i could improve all of theatre subject. My wish just filled up so much within a longtime process and it’s routine in twice a week. He taught us to become a person with full of humanity. He said actors must know their task on stage. A stage is everywhere we lived on, not just actually a real stage in opera, but we lived onside and outside stage. I’ve taken a Art Philosophy class made me fell in the essence of arts like white and black in our life. I never feel regret joining theatre. I get mix-up to face some problem and dilemma using between mind and heart either onside or outside stage which is very complex  -[R21]-

Menulis tentang menulis (Write is Talking) last part

Untuk memahami hal tersebut, kita yang setidaknya pernah menjadi kritikus harus banyak membaca buku serta membuka mata serta pikiran secara universal. Itulah timbal balık kaca dunia dan buku yang harus dilewati sang pembuat karya dan sang penonton. Yang terakhir adalah ilmu. Ilmu itu dibuka dengan buku dan teori. Kiasan “Buku adalah jendela dunia” itu sangat nyata. Banyak orang-orang melupakan pentingnya buku layaknya sekarang dan pindah ke dunia digital. Pernahkah anda terpikirkan “Berapa lama anda bertahan membaca dalam versi digital ?”. “Apakah anda pernah berkaca ketika anda mengkritik suatu tulisan di dunia digital tanpa adanya dasar pengetahuan atau kejadian yang menimpa diri sendiri ?”. Ironisnya, dunia digital saja bermula dari tulisan pada secarik kertas dan pena. Ilmu selalu berkaitan dengan teori. Teori yang tidak didasarkan oleh diri sendiri melainkan teori-teori ilmiah yang selalu ditemukan pada bidangnya masing-masing. Beberapa kalangan melupakan hingga mengabaikan pentingnya teori dan selalu beranggapan orang yang mengacu pada teori adalah orang-orang kuno dengan istilah ortodoks. Padahal, orang-orang yang memiliki, mengetahui serta memahami sangat mendalam hingga mendetail teori-teori ilmiah tersebut adalah orang yang berilmu. Jika mereka tidak pandai dalam memahami yang mengakibatkan teori-teori tersebut berbelok ke arah yang salah, maka akan terjadi suatu kesenjangan sosial yang berujung adanya konflik yang tidak dapat diselesaikan apapun caranya karena memiliki paham berbeda-beda. Mengambil keputusan yang salah berakibat sangat fatal. Inilah yang dikenal bahwa menulis adalah bicara  kepada dunia serta berkaca pada diri sendiri.