Pagi yang cerah seketika masih terasa suntuk dan terlelap di atas kapuk yang nyaman sebelum menyadari bahwa siang ini terdapat kelas yang saya nantikan selama saya berkuliah 2,5 tahun yaitu kelas Penulisan Populer. Senang rasanya saat mendapat kelas ini dengan alasan karena ingin berkarya dengan tinta hitam diatas kertas putih. Ketika ada beberapa orang mengatakan menulis adalah hal mudah tetapi bagi saya, menulis adalah proses. Kemudian, saya pun beranjak dari ruang yang penuh mimpi dan bergegas untuk ke salah satu universitas terbaik di Indonesia. Tak hanya status yang menjadikannya salah satu universitas terbaik, kelengkapan fasilitas, dan luasnya juga menjadi salah satu faktor yang mendorong mahasiswa untuk belajar disini. -[R21]-

Dengan mengenakan kemeja yang penuh hiasan burung walet, saya pun berjalan dari blok yang sangat jauh di seberang jalan yang bersebelahan dengan gedung pencakar langit. Walaupun terasa lelah ketika mendaki jembatan, menyeberangi rel kereta, melewati beberapa fakultas dan gedung penuh wawasan adalah hal yang wajar karena tidak mudah untuk mendapatkan ilmu. Ilmu diraih dengan merangkak perlahan agar ia bisa berdiri dengan kokoh nantinya. Disaat berjalan itu, sejenak terpikirkan olehku bahwa minimnya kaum adam untuk mengambil mata kuliah ini. -[R21]-

Saya pun tiba di depan fakultas tercinta yang memiliki banyaknya pohon-pohon rindang yang berbaris di setiap pojok tempat dengan dihiasi hiruk-pikuk suasana penuh roman klasik selayaknya suasana jaman dahulu kala. Bahkan, di setiap gedung terdapat kursi-kursi yang dikelilingi oleh taman hijau dan sejuk. Ada tempat duduk untuk berdiskusi, mengobrol, atau mengerjakan tugas sambil ditemani secangkir kopi hitam. Lalu, saya pun melihat jam yang menandakan pukul satu kurang sepuluh menit. Dengan santai sambil menyapa beberapa teman yang berpapasan, dan memasuki gedung empat. Saya pun mencari dan mengecek ruangan tersebut di telepon genggam bertenaga komputer yang dibuat oleh perusahaan dari Korea. Ketika saya menemukannya, jalan pun terhenti dan merasa heran di depan ruang tersebut untuk memastikan kembali. Ternyata, saya sudah pernah memasuki ruangan ini untuk semester ini pada kamis yang lalu dengan mata kuliah psikologi sastra.

Ruang kelas ini merupakan ruang kelas 4201. Ruangan ini terletak di lantai dua gedung empat. Pintu ruangan ini terbuka dengan penerangannya yang samar. Ruangan ini bersebelahan dengan toilet pria. Ruangan ini memiliki lantai yang coklat yang bentuknya persegi dengan ukuran yang sekitar tiga atau empat sentimeter sisinya. Ketika masuk kelas itu terlihat kursi-kursi dan meja yang tersusun rapi dan sudah ada beberapa mahasiswa di dalamnya. Ada jendela-jendela cukup besar dan panjang tanpa ditutupi apapun. Seketika melihat ke luar jendela, terdapat  kafe-kafe kecil, gedung sepuluh yang sangat tinggi serta danau yang melintasi fakultas teknik, fakultas ekonomi dan fakultas ilmu pengetahuan budaya.    

Ruangan ini cukup luas untuk ruangan yang berisi empat puluh mahasiswa dan satu pengajar. Di dalamnya terdapat dinding yang menopang kaca-kaca tersebut sangat klasik tanpa dilapisi banyak warna, hanya putih dan batu bata yang sudah dihalusi. Salah satu dindingnya berasal dari triplek dilapisi warna putih. Kelas ini terdapat pula pendingin ruangan yang sudah cukup lama,  membuat suasana tidak terasa panas ataupun dingin walaupun sudah dihidupkan. Kelas ini juga berisi lebih banyak kaum hawa daripada kaum adam.

Di sisi depan ruangan ini terdapat satu kursi dan dua buah meja yaitu satu meja pengajar dan satu meja untuk meletakan proyektor. Kelas ini tidak memiliki proyektor yang menggantung diatas.  Selain ada meja dan kursi, ada papan tulis putih di belakang meja dan kursi pengajar. Ada bekas coret-coretan hitam dan biru yang sudah terhapuskan di papan tulis tersebut. Di atas papan tulis tersebut ada layar yang digunakan untuk menampilkan presentasi yang berasal dari laptop diproyeksikan melalui proyektor.

Kelas ini berisik sebelum pengajar datang dan aktif ketika beliau datang. Saya hanya sedikit diperkenalkan oleh dosen yang mengajar teori psikoanalisis Sigmund Freud di ruangan yang sama pada hari kamis lalu mengenai dosen yang mengajar penulisan populer tersebut. Bel pun berbunyi, seketika beliau baru tiba di kelas dalam lima hingga sepuluh menit berlalu. Kelas ini berisikan sekitar dua puluh mahasiswa pada awal perkuliahan sehingga masih banyak bangku-bangku kosong. Karena awal perkuliahan, beliau memperkenalkan dirinya, bercerita dan bertanya tentang asal fakultas mahasiswa selain dari fakultas sastra. -[R21]-

  Sesudah ia bertanya, beliau pun melanjutkan bahasan tentang empat jenis dasar tulisan yang terdiri deskripsi, eksposisi, narasi, dan argumentasi. Beliau juga membahas sistem penilaian, format tugas, dan menjelaskan ada sekitar enam hingga delapan tugas. Tak lama kemudian, ia menerangkan bahwa penulisan populer lebih mengarah layaknya opini dan cerita pendek. Ia pun akhirnya memberi tugas pertama yaitu pendapat atau opini individu tentang penulisan. -[R21]-

Saya pun beralih menengok ke sisi belakang kelas. Banyak kursi bersandingan tanpa celah  yang berbeda seperti kursi-kursi tengah dan depan terbagi atas kiri dan kanan. Di awal perkuliahan ini hanya ada tiga hingga lima mahasiswa pria yang mengambil kelas ini. Sepertinya kelas ini berisi mahasiswa yang beraneka ragam dan kreatif dalam bidang penulisan. Kelas ini terasa nyaman untuk belajar. Tidak banyak berubah dari ruangan ini. Perbedaan ketika saya kuliah pada hari senin dengan hari kamis adalah mata kuliah hari kamis terasa lebih ramai hingga penuh satu ruangan dan lebih aktif walaupun di ruangan yang sama. Oleh karena itu, rasa semangat belajar tidak didasarkan atas perbedaan situasi serta suasana tersebut agar tetap optimis setiap saat. Itulah ruangan ini, berbeda-beda tapi tetap satu tujuan dalam menyongsong masa depan kita kelak. -[R21]-

Written by : Rifqi A.