Menulis adalah salah satu kegiatan yang bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Kegiatan ini juga tidak selalu bergantung pada topik yang bertemakan kritik, politik, puitis, atau ilmiah. Pada awalnya, manusia selalu mengalami kebingungan ketika dihadapkan kegiatan tulis-menulis seperti tata bahasa serta diksi yang baik dan benar atau bahasa sastra layaknya Shakespeare,  pengembangan tulisan, dan lainnya. Semua orang bisa menulis tanpa ada ketentuan bahasa yang baku ataupun formal. Menulis juga tidak memandang strata kekuasaan serta ekonomi serta usia. Kalau ada yang melihat dari sudut pandang tersebut, bagaimana orang-orang zaman dahulu bisa menulis tanpa adanya teknologi yang berkembang pesat di zaman kita hidup sekarang. Mereka hanya bermodalkan batu, daun, kayu dan tulisan-tulisan aksara. Jika dilihat dari sudut pandang usia, apakah menulis itu harus dilakukan sejak usia dini ataupun hanya orang-orang sudah hidup puluhan tahun yang bisa menulis. Tidak ada kata terlambat, jika seseorang sudah berniat.  -[R21]-

Menulis itu proses. Tidak ada satu pun orang yang bisa menulis tanpa dia belum ada niatan untuk menulis. Hanya ada dua hal ketika hal apapun ingin dilakukan termasuk menulis yaitu “Kalau ada niat, pasti ada cara”. Sebaliknya, “Kalau tidak niat, cara pun tidak terbuka sama sekali”. Ketika niat itu ada, mulanya pasti berujung pada pahit yang berbuah manis dikemudian hari, minggu, ataupun beribu tahun. Orang-orang legenda yang bermain dikancah olahraga, musik, atau bidang lainnya selain menulis mengalami hal yang serupa. Layaknya, orang-orang legenda seperti Pele, Michael Jordan, J.K Rowling, Joey Alexander, mereka selalu berlatih terus-menerus yang membuat dirinya membuang kesempatan untuk memanjakan diri pribadi. Beberapa orang pasti pernah terpincut suatu tanggapan atau berpikiran “Apakah mereka semua berbakat sejak dini ?”. Bahkan orang-orang berbakat yang tidak pernah mengasahnya bisa berbuah tumpul. Dua hal pula yang bisa membuat hal tersebut tumpul adalah “Jangan terlalu cepat puas” atau “Jangan terlalu cepat bosan” pada hasil yang diterima. -[R21]-

Ketika hasil itu melibatkan penonton ataupun pembaca, dan pada akhirnya mereka memiliki hasil yang sangat minim di awal yang nantinya berujung menyerah dan akhirnya jalan tersebut putus. Mereka memiliki pilihan atau selera sendiri. Banyak orang yang menetapkan hasil yang langsung tinggi ketika mereka baru saja diakui oleh dunia. Jika suatu karya memasuki dunia internasional, tuntutan pengarang atau pencipta pun banyak seperti banyaknya eksemplar harus dikirimkan kepada beberapa cabang penerbit dalam waktu persekian detik. Jangankan internasional, baru dunia nasional saja tuntutan pun banyak. -[R21]-

Menulis itu bicara terhadap dunia dan diri sendiri. Saat ini, banyak kalangan-kalangan yang tidak berilmu, langsung tidak terima ketika dunia itu langsung dibuka secara lebar melalui suatu karya.  Sebelumnya, pembaca sendiri harus memahami serta mengerti apa yang ingin dibicarakan oleh si penulis atau pengarang tersebut. Kebanyakan orang-orang sekarang tidak memahami apa yang ingin dibicarakan oleh penulis dan langsung mengkritik sesukanya hingga membelokkan dan menutup karya tersebut. Memang nyata, suatu karya harus ada kritikan, dan mengkritik itu sangat menyenangkan dan mudah. Hanya dengan memberi kesan negatif tanpa mereka memikirkan jangka panjang yang terjadi di masa datang. Hanya sekian persentase kecil, dimana kritikan tersebut bisa jadi acuan untuk berproses menjadi yang lebih baik. Dan pencipta akan mengetahui kritikan-kritikan bodoh yang tidak berilmu. Hal tersebut pernah menjadi pesan moral tersirat pada film animasi “Ratatouille” pada tahun 2007 yang memiliki kiasan “siapapun bisa memasak” yang berarti orang hebat bisa datang darimana saja dan kapan saja tanpa memandang kelas dan bentuk. -[R21]-

Untuk memahami hal tersebut, kita yang setidaknya pernah menjadi kritikus harus banyak membaca buku serta membuka mata serta pikiran secara universal. Itulah timbal balık kaca dunia dan buku yang harus dilewati sang pembuat karya dan sang penonton. Yang terakhir adalah ilmu. Ilmu itu dibuka dengan buku dan teori. Kiasan “Buku adalah jendela dunia” itu sangat nyata. Banyak orang-orang melupakan pentingnya buku layaknya sekarang dan pindah ke dunia digital. Pernahkah anda terpikirkan “Berapa lama anda bertahan membaca dalam versi digital ?”. “Apakah anda pernah berkaca ketika anda mengkritik suatu tulisan di dunia digital tanpa adanya dasar pengetahuan atau kejadian yang menimpa diri sendiri ?”. Ironisnya, dunia digital saja bermula dari tulisan pada secarik kertas dan pena. Ilmu selalu berkaitan dengan teori. Teori yang tidak didasarkan oleh diri sendiri melainkan teori-teori ilmiah yang selalu ditemukan pada bidangnya masing-masing. Beberapa kalangan melupakan hingga mengabaikan pentingnya teori dan selalu beranggapan orang yang mengacu pada teori adalah orang-orang kuno dengan istilah ortodoks. Padahal, orang-orang yang memiliki, mengetahui serta memahami sangat mendalam hingga mendetail teori-teori ilmiah tersebut adalah orang yang berilmu. Jika mereka tidak pandai dalam memahami yang mengakibatkan teori-teori tersebut berbelok ke arah yang salah, maka akan terjadi suatu kesenjangan sosial yang berujung adanya konflik yang tidak dapat diselesaikan apapun caranya karena memiliki paham berbeda-beda. Mengambil keputusan yang salah berakibat sangat fatal. Inilah yang dikenal bahwa menulis adalah bicara  kepada dunia serta berkaca pada diri sendiri. -[R21]-

Written by : Rifqi A

Advertisements