MIMPI ?

Saya memiliki momen terindah dan tidak terlupakan selama selama tiga tahun di sini, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Saya tidak hanya belajar tentang linguistik saja, melainkan kebudayaan, kesusastraan, serta sejarah juga dipelajari. Suasana pun mempunyai keindahan dan warna tersendiri dengan acara-acara yang diadakan dari berbagai jurusan. Salah satu acara terbesar fakultas ini adalah Festival Budaya yang diadakan setiap setahun sekali pada bulan November atau Desember.

Festival Budaya memiliki banyak kenangan terindah dan tak terlupakan bagi saya, terutama pada acara Petang Kreatif, acara teater terbesar yang melibatkan lima belas jurusan dan diperuntukkan mahasiswa-mahasiswa baru FIB karena saya bisa mengenal satu angkatan serta senior-senior hingga alumni datang untuk membantu adik-adik yang belum sama sekali mengenal teater. Nilai positif yang saya dapati adalah mengenal ilmu teater yang tidak pernah diajarkan semasa bangku sekolah dalam dua belas tahun. Saya menjadi penasaran dan ingin mendalami ilmu teater tersebut dengan alasan saya menemukan sesuatu yang baru dalam diri saya sendiri. Hal itu sangat bertolak belakang ketika saya sangat lama mengikuti ekstrakurikuler paskibra semenjak SMP hingga SMA. Saya berterima kasih terhadap Petang Kreatif memberikan kepercayaan diri dengan tampil sebagai lakon pada pementasan yang berjudul “PENJARA”. Saya sangat berlatih keras dan ingin merasakan kemenangan layaknya gajah yang menginginkan sayap, yang akhirnya tak mendapatkan apa-apa. Saya sempat merasa kecewa dan juga merasa bahwa latihan keras saya hanya sia-sia. Ketika usai, saya pun merasa sudah tenggelam dengan passion baru tersebut dan mengakibatkan alumni berambisi untuk membuat teater di dalam jurusan Jepang yaitu Teater Niyaniya.

Beralih tahun 2014, inilah pertama kali ingin menyelami perteateran. Bersama aktor-aktor yang telah berpartisipasi dalam Petang Kreatif, akhirnya bergabung komunitas tersebut. Alumni yang biasa dikenal dengan inisial N, ia yang bertanggung jawab atas komunitas ini terbentuk. Datang dari kehidupan perkotaan yang sangat penat dan tenggelam di tengah lautan dunia, lalu tabung oksigen yang mulai habis, akhirnya suksesi menemukan kapal selam yang bernama “HARUKA”. Pementasan yang bertempat di Stadion Bulungan bukanlah hal yang mudah untuk komunitas teater yang baru saja dibuat. Mengumpulkan uang sedikit demi sedikit lama menjadi bukit, pentas pun dilaksanakan di bulan Juli. Pascapementasan, aktor-aktor mulai memiliki kesibukan masing-masing dan keluar dari komunitas tersebut. Akhirnya, terpikirkan olehku untuk keluar dari komunitas tersebut akibat tidak adanya latihan rutin, dan hanya latihan ketika ada niat pementasan. Mungkin orang mengira saya itu adalah obsesi atau orang idealis. Tetapi, sumber daya manusia tak mencukupi untuk menghidupkan komunitas tersebut. Ilmu teater dengan berdasarkan Petang Kreatif tidaklah cukup. Teman yang mendirikan komunitas pun belum memiliki keahlian selain keaktoran. Hanya diajarkan satu karakter dan tidak mempelajari karakter lain membuat saya kecewa karena saya tidak akan berkembang dengan hanya satu karakter saja. Kekecewaan makin bertambah karena saya telah memilih jalan hidup untuk menekuni teater lebih dalam. Ironi, ketika ambisi tidak diniatkan untuk melanjutkan jenjang yang lebih tinggi, beasiswa pun tersedia. Saya pun memutuskan untuk keluar dari komunitas tersebut. Dengan berharap bagaimana saya bisa berkembang dengan mempelajari semua hal yang berhubungan teater dan mencoba bermain tanpa naskah seperti kehidupan sehari-hari. Akhirnya, saya memutuskan untuk bergabung Teater Sastra.

Bergabung Teater Sastra adalah hal paling sulit karena ketika saya masih maba, saya memang ingin bergabung ukm fakultas ini tanpa pengetahuan apapun. Saya menonton multimonolog yang berjudul SELINGKUH membuat saya terpana. Akibat sibuk dalam Petang Kreatif, dan alumni jurusan jepang belum ada yang bergabung ukm fakultas tertua ini, saya memutuskan untuk menahan terlebih dahulu. Dilanjutkan pada tahun 2014, mereka mementaskan adaptasi novel Shakespeare, disana saya merasakan keindahan dan kelihaian sutradara mengadaptasi naskah ini karena saya pun juga membacanya dan penasaran ketika itu dipentaskan. Seusai pentas itu, tak lama kemudian hal itu menjadi acuan buat saya untuk ikut karena ada teman yang menjadi aktor di pementasan tersebut. Karena ada teman, akhirnya saya pun bergabung Teater Sastra. Pertama kali, saya takut tapi akhirnya bisa menyesuaikan diri dan diterima dalam keluarga tersebut. Ketika saya bergabung, saya hanya kerupuk dan aktor bodoh. Selama dua tahun belajar menjadi garing. Sesuai Einstein berkata “semakin saya belajar, semakin banyak yang saya belum ketahui”. Dosennya pun sesuai yang saya harapkan, beliau lulusan teater New York dengan beasiswa Fullbright. Hal itu membuat terdiam dan keheningan di kepala. Metode pengajaran seperti teater-teater Amerika. Beliau juga mengajarkan bahwa teater adalah ilmu memanusiakan diri sendiri dan orang lain. Saya tidak pernah menyesal bisa bergabung teater ini. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s